Tips Memotret Ketika Sedang Liburan (Traveling)

Posted on

Pada artikel kali ini Saya akan membahas mengenai dunia fotografi. Dan tips tentang dunia fotografi yang akan Saya bahas pada artikel kali ini adalah cara memotret ketika sedang traveling atau melakukan perjalanan liburan.

Permasalahan yang  dapat kita temukan ketika ingin memotret pemandangan atau mungkin objek hidup seperti manusia ketika traveling adalah bahasa lokal. Gara-gara itu, tak jarang kita pun menjadi tidak pede untuk berkomunikasi atau melakukan pendekatan personal dengan mereka.Tips Memotret Ketika Sedang Liburan (Traveling) 1 oleh rumah onlineku

Kesimpulannya, kita tidak perlu merasa ragu atau tidak percaya diri untuk membina komunikasi dengan penduduk di tempat-tempat yang kita kunjungi. Sekurang-kurangnya itulah yang sering dilakukan banyak fotografer professional ketika traveling ke berbagai daerah baik di dalam maupun luar negeri.

Ada tiga kata penting yang biasanya digunakan untuk membina komunikasi, yaitu terima kasih (thanks / thank you), maaf (sorry) dan tolong (please). Untuk keperluan photo trip, tiga kata ajaib tersebut boleh saja diubah seperti ini: Halo, apa kabar?, Maaf Dan terima kasih.Tips Memotret Ketika Sedang Liburan (Traveling) 1 oleh rumah onlineku

Coba untuk menguasai sekurang-kurangnya tiga sapaan tersebut dalam bahasa daerah yang kita kunjungi. Rasakan keajaiban dalam diri kita bahwa kita akan lebih percaya diri dalam mendekati mereka, dan mereka pun akan lebih mudah akrab dengan kita. Dengan begitu, kita akan lebih mudah untuk mengambil gambar tanpa membuat mereka marah atau curiga terhadap kita.

Mengapa kita perlu repot-repot menyiapkan komunikasi sedemikian rupa, padahal kita hanya bermaksud memotretnya? Dalam tips mengambil gambar orang, hal utama yang perlu kita perhatikan adalah kepribadian, itulah yang membedakan dari subjek-subjek lain. Kita tidak hanya mengambil gambar wajah dan tubuhnya saja, tetapi juga jiwa, emosi dan wataknya.

Bahasa Tubuh Saat Berkomunikasi

Selain kata-kata ajaib tadi, bahasa tubuh juga punya peranan penting dalam membina komunikasi ketika mengambil gambar manusia saat travelling. Kita perlu membiasakan diri menggunakan gerakan-gerakan di wajah (termasuk senyum), tangan atau badan ketika bercakap atau berkomunikasi dengan orang lain. Ini akan menjadikan suasana lebih hangat / akrab, bayangkan betapa kakunya bila kita hanya bicara tanpa disertai gerakan-gerakan tersebut.

Ketika kita mendengar penjelasan dari lawan bicara, kita perlu menunjukkan bahwa kita memperhatikan secara teliti dengan menggunakan bahasa tubuh, misalnya dengan mengatur posisi tangan lebih menyatu ke badan, serta wajah yang kepekatan memperhatikannya. Selanjutnya, kita juga perlu belajar memahami bahasa tubuh yang menjadi ciri khas daerah yang kita tuju.

Di Jepang, sebagai contoh, apabila mengucapkan terima kasih atau selamat tinggal, kita perlu tunduk agak dalam beberapa kali. Di India, kita perlu menggelengkan kepala untuk mengiyakan, atau di Thailand, kita sebaiknya menangkupkan telapak tangan ketika bertemu atau mengucapkan terima kasih. Jadi, tiga kata ajaib dan bahasa tubuh mampu membuat kita akrab, dan juga membuat saya boleh mengambil gambar mereka dengan baik.

Jadikan Teman

Menjadikan orang yang kita temui sebagai teman juga boleh melancarkan jalinan komunikasi kita, termasuk dalam urusan potret-mengambil gambar. Ketika kita ingin mengambil gambar seorang penjual cinderamata, misalnya, mungkin kita perlu membeli dagangannya terlebih dulu sambil menjalin komunikasi sampai terjalin keakraban layaknya teman. Barulah selepas itu kita meminta izin untuk memotretnya.

Contoh lain, selagi kita menjadi pelanggan di sebuah restoran atau rumah makan tradisional, manfaatkan masa untuk berkenalan dengan pelayan atau pengelolanya. Di saat sudah akrab, kita baru meminta izin untuk mengambil gambar subjek-subjek yang ada di situ, seperti makanan, orang-orangnya sampai dapur beliau. Memperlihatkan beberapa jepretan kita yang menarik kepada mereka. Kalau mereka meminta gambarnya, kita hanya meminta e-mail mereka untuk mengirimkan foto-foto yang tersebut ke mereka di kemudian hari.

Semi automatik

Dari berbagai pengalaman traveling, kemampuan non-teknikal, seperti membina komunikasi, memang lebih menentukan kejayaan kita dalam mendapatkan gambar-gambar terbaik. Keakraban yang dikejutkan akan membuat kita lebih leluasa dalam melakukan pemotretan, termasuk dalam memilih angle atau meletakkan diri kita untuk mendapatkan titik pemotretan terbaik. Bahkan apa yang disebut decisive moment pun mungkin boleh kita dapatkan gambarnya.

Dalam mengambil gambar manusia saat traveling, seringkali memilih mode semi automatik seperti mode “A” (Aperture Priority) dan ISO yang paling selamat, sehingga saya tinggal menentukan bukaan-nya dan kamera yang akan menentukan kelajuan rananya. Dengan demikian, kita boleh lebih banyak menumpukan perhatian untuk mencari angle yang akan membina komposisi-komposisi kreatif, serta siap menangkap detik-detik yang mungkin terjadi, dan mungkin hanya berlangsung perpecahan.

Baca juga :   Cara Setting Kamera DSLR / Mirrorless Baru
Firman Rasyid lahir di Parepare, 18 Juni 1988. Firman yang lebih akrab dipanggil Immunk ini adalah seorang pria tertutup yang hampir tidak pernah sama sekali membagikan masalahnya kepada orang lain. Atau mungkin karena hidupnya memang tidak pernah bermasalah sama sekali (Perlu dipertanyakan). Selengkapnya tentang saya

Tinggalkan komentar