Ceramah-ceramah meneduhkan AGH Sanusi Baco sangat dirindukan

by

Makassar – Dengan usia yang sudah menginjak 80 tahun, Anregurutta KH Sanusi Baco kini harus mengurangi jam terbangnya. Dokter memintanya harus lebih banyak istirahat.

Sebagai seorang ulama kondang di Sulawesi Selatan, sikap dan ceramah-ceramah AGH Sanusi Baco yang meneduhkan dan mencerahkan, sangat dirindukan masyarakat di Sulawesi Selatan.

Dengan gayanya yang selalu berpeci hitam, memakai jas hitam dan sarung, AGH Sanusi Baco merupakan ulama yang sangat menjaga identitas lokalnya.

Dia tidak ikut-ikutan gaya Arab. Tetapi sanggup membumikan ajaran-ajaran Islam dengan baik ke dalam diri masyarakat Sulsel, tanpa menghilangkan nilai-nilai lokal orang Sulsel.

Diskusi buku AGH Sanusi Baco

Hal itu menjadi perbincangan dalam bedah buku “Setia di Jalan Dakwah; 80 tahun Dr AGH Sanusi Baco Lc, yang digelar di Rumah Makan Wong Solo Alauddin, Minggu 4 Maret 2018. Buku tersebut disusun oleh Firdaus Muhammad dan Suhardi, dengan Muhary Wahyu Nurba sebagai editor.

Salah satu narasumber, Prof Hasyim Aidid, menceritakan, peci hitam dan jas hitam itu menunjukkan bahwa AGH Sanusi Baco sangat Indonesia dan nasionalis.

AGH Sanusi Baco

Sementara, politikus Sulsel, Azhar Arsyad, bercerita, dirinya sering berbeda dengan AGH Sanusi Baco dalam pilihan politik. “Saya selalu beda pilihan di PKB, tapi kalau ketemu tidak pernah menyinggung soal politik,” ujar Ketua DPW PKB Sulawesi Selatan itu.

Azwar Hasan bercerita, dalam sebuah kegiatan salat Ied, warga berdebat soal adanya jemaah yang berada shaf yang melewati garis Imam. “Untungnya ada yang berinisiatif menghubungi Gurutta Sanusi Baco. Semuanya patuh, mengikuti gurutta. Sehingga, jemaah yang berada di barisan yang melewati (lebih di depan) Imam, harus dipindahkan. Salat ied pun bisa dimulai,” katanya.

Sayangnya, Anregurutta Sanusi Baco mungkin harus mengurangi jam terbangnya. Alumnus Al Azhar Mesir itu terbaring di Rumah Sakit Awal Bros.

“Dokter sudah melarang beliau terbang di atas 30 ribu kaki. Sudah tidak boleh. Harus lebih banyak istirahat,” jelas Pengurus MUI Sulsel, Ilham Hamid.

Penyusun buku “Setia di Jalan Dakwah”, Firdaus Muhammad, menceritakan, buku tersebut menceritakan AGH Sanusi Baco, mulai dari masa kecil, menuntut ilmu di DDI Mangkoso Barru, lalu berangkat ke Mesir dan “satu letting” dengan Gus Dur dan KH Mustafa Bisri di Al Azhar Mesir.

“Buku ini diharapkan menjadi inspirasi perjuangan ulama yang kemudian cara berpikir dan gerakan dakwah Gurutta ini bisa dilestarikan,” jelas dosen UIN Alauddin Makassar tersebut.

Bagikan artikel ini :


Source link