Diaspora Indonesia, Ruksima, Tuangkan Imajinasi ke Dalam Animasi Stop-Motion

by

Terinspirasi dari film produksi Walt Disney, Lion King, diaspora muda Indonesia, Ruksima, di Los Angeles, California kemudian memutuskan untuk terjun ke dunia animasi. Jika dulu anak-anak seumurannya lebih suka menonton sinetron, lain halnya dengan Ruksima yang memilih untuk menonton film kartun.

“Aku tuh enggak suka sinetron. Aku suka banget waktu pertama kali aku lihat film Lion King. Itu blow my heart banget dan aku sampai sekarang sudah nonton mungkin kayaknya udah 1.000 kali,” papar Ruksima saat ditemui oleh VOA di Los Angeles belum lama ini.

Menurut Ruksima, di industri perfilman animasi, film Lion King itu sangat klasik dan bersejarah, bahkan menjadi sumber acuan bagi para animator seperti dirinya.

“Lion King itu kayak our lord gitu,” ujarnya sambil bercanda.

Ruksima menambahkan film Lion King yang adalah film animasi dua dimensi dengan penghasilan terbesar di Amerika ini sangat sulit untuk dibuat.

“Sangat susah dibandingin 3D animasi, oh my God, itu susah banget 2D animasi. Dia harus frame by frame. Dia harus gambar satu-satu, itu lebih susah dari stop-motion kalau aku bilang, karena kan itu pakai garis, pakai gambar sendiri dan belum tentu itu sama,” jelas perempuan yang kini tengah melanjutkan studinya di New York Film Academy College of Art di Los Angeles, California, jurusan animasi video.

Saat ini Ruksima tengah mendalami animasi stop-motion, sebuah teknik animasi yang menggerakkan objek berupa boneka, seperti yang terlihat dalam film The Nightmare Before Christmas karya sutradara kenamaan Tim Burton dan Shaun the Sheep Movie. Boneka-boneka yang digunakan bisa dibuat dari berbagai macam bahan, antara lain tanah lihat. Objek tersebut kemudian digerakkan per sekian detik secara halus.

Puppet-nya itu harus digerakin frame by frame, little by little, dan pas dia lagi mau bergerak itu kita harus tahu frame-nya itu berapa frame per second dan dengan tangan kita sendiri kita harus menggerakan puppet itu. Itu perbedaan dari 3D (dimensi). Kalau 3D kan di komputer. Kalau di komputer kan kita tinggal pasang key frame aja dia sudah langsung bergerak sendiri. Tapi kalau stop-motion itu memang sangat berat dan kita harus mengerti benar bagaimana kamera film bekerja dan kamera fotografi bekerja,” papar perempuan yang hobi main game, travelling, dan nonton film animasi ini.

Sebagai stop-motion animator yang independen, Ruksima harus membuat boneka-boneka atau puppet-nya sendiri.

“Semuanya harus bikin sendiri. Tapi saya juga ada beberapa teman sih yang bantuin untuk fotografinya. Tapi untuk semua set, puppet, cerita, Art Director-nya semuanya saya,” kata Ruksima yang dalam proyeknya juga bekerja sama dengan sineas Indonesia, Cheverly Amalia, di Los Angeles.

Dalam menggarap proyek film animasi stop-motion menurut Ruksima banyak sekali tantangannya, terutama ketika dalam tahap pembuatan boneka-boneka yang diperlukan dalam film.

“Itu bikin puppet-nya enggak gampang juga. Kita mesti bikin rangkanya mungkin dari kawatkah ataupun dari besi. Jadi kita mesti bikin satu-satu,” tutur Ruksima.

Ia juga harus memastikan agar boneka tersebut kuat dan tidak mudah patah atau rusak karena harus digerakan berulang kali. Sebagai persiapan ia harus membuat ekstra tangan atau kaki boneka, sehingga ada penggantinya jika ada yang rusak.

“Jadi tangannya mungkin bisa ada 50 tangan gitu, kakinya mesti 50 kaki,” jelasnya.

Ruksima (kanan) bersama reporter VOA, Dhania Iman, saat berjumpa di Los Angeles, California (Dok: VOA)

Ruksima (kanan) bersama reporter VOA, Dhania Iman, saat berjumpa di Los Angeles, California (Dok: VOA)

Walaupun banyak film stop-motion yang sukses di bioskop ataupun di festival-festival film, Ruksima mengakui bahwa bidang ini masih jarang peminatnya.

“Stop-motion is not much ya di Los Angeles maupun di Indonesia or maybe di dunia ya. Cuman berkembangnya zaman, sekarang stop-motion sudah mulai berkembang,” tambah Ruksima.

Tidak hanya proses pembuatannya yang sulit dan lama, tetapi sang sineas juga harus mengambil foto frame by frame.

“Intinya butuh tenaga extra kalau buat stop-motion. Jadi kalau animator, mereka memilih untuk menjadi 3D artists (dibanding) jadi stop-motion artist,” ujar perempuan kelahiran tahun 1990 ini.

Ada beberapa studio film besar di Amerika yang memang memfokuskan karyanya dalam bentuk stop-motion, antara lain Laika Entertainment di negara bagian Oregon yang memproduksi film Coraline, ParaNorman, The Boxtrolls, dan Kubo and the Two Strings. Selain itu ada juga Big Pix Entertainment, studio film di Los Angeles yang memproduksi film-film stop-motion.

Sebagai seorang imigran dari Indonesia yang berkarya di Amerika, Ruksima mengatakan industri perfilman Amerika sangat terbuka dan kagum terhadap para pendatang baru yang bertalenta

“Untuk lowongan pekerjaan sangat banyak ya, dan orang-orang di (Amerika) juga welcome buat orang baru yang mau belajar,” jelasnya.

Saat ini Ruxima tengah menggarap tugas akhir sekolah yang dijadwalkan selesai pada bulan September mendatang. Boneka dan set filmnya pun ia buat sendiri.

“Judulnya ‘Half of Me.’ Ceritanya tentang anak kecil ini dia enggak tahu ternyata dia itu sudah meninggal. Jadi dia itu kayak haunted dia punya teman-teman. Dia pikir teman-temannya itu enggak sayang sama dia. Jadi dia birthday party dia invite teman-temannya tapi teman-temannya enggak ada yang datang. Dia pikir ‘kok teman-teman aku enggak mau dateng sih? Kenapa? Ternyata dia enggak tahu sebenarnya dia sudah meninggal,” ceritanya kepada VOA.

Rencananya Ruksima akan mendaftarkan filmnya ini ke festival film. Untuk kedepannya Ruksima berharap animasi berjenis stop-motion ini bisa lebih diterima di Indonesia. Menurutnya animasi stop-motion ini tidak hanya bisa ditonton oleh anak-anak tetapi juga orang dewasa.

“Mudah-mudahan Indonesia bisa menerima dan mudah-mudahan ada perkembangan untuk stop-motion. Inginnya sih gitu. Enggak usah stop-motion deh sebenarnya. At least 3D-nya dikembangkan dulu,” ujar perempuan penggemar cokelat ini.

Agar bisa sukses di bidang animasi, Ruksima mendorong teman-teman untuk tidak pernah berhenti belajar dan benar-benar menyukai dulu apa yang akan dikerjakan.

“Karena prosesnya enggak mudah. Mau itu 2D animation, 3D animation ataupun stop-motion animation. Dan yang penting kita bisa belajar otodidak ya, tapi harus dilanjutin di sekolah. Ada skill tapi kalau asal buatnya sama saja bohong,” tutur Ruksima menutup wawancara dengan VOA. [di]

Source link