Perpustakaan Baru di DC Jadi Pusat Komunitas

by

Selama 10 tahun terakhir, pemerintah kota Washington, D.C., telah merenovasi perpustakaan-perpustakaan umum, dengan harapan bisa menciptakan pusat-pusat komunitas di tempat-tempat yang sebelumnya dikunjungi oleh orang-orang yang hanya ingin membaca buku. Koresponden VOA Iulia Iarmolenko baru-baru ini mengunjungi salah satu perpustakaan inovatif yang baru direnovasi itu.

Kevin Osborne, manajer perpustakaan umum West End Public Library, menyambut kunjungan VOA ke perpustakaan yang dikelolanya dengan hangat. “Selamat datang di perpustakaan West End di Washington, DC. Kami berjarak dua blok dari Departemen Luar Negeri. Ini adalah gedung baru yang merupakan hasil kemitraan swasta dan pemerintah,” sambutnya.

Perpustakaan itu terletak di lantai pertama sebuah gedung baru tempat berbagai kantor di Washington. Pemerintah kota setempat memberi pengembang lahan, di mana perpustakaan umum model lama berdiri. Salah satu syaratnya adalah pihak pengembang harus membangun perpustakaan umum mutakhir sebagai bagian dari proyek mereka.

Richard Reyed-Gavilan, Executives Director, DC Public Libraries. (Photo: VOA/Videograb)

Richard Reyes-Gavilan, direktur pelaksana seluruh perpustakaan umum di kota Washington, D.C, memberikan alasan kerja sama swasta-pemerintah itu.

“Terus terang, kerja sama ini bagus karena sejumlah alasan. Bagi pembayar pajak dan pemerintah kota – mereka mendapatkan perpustakaan yang harganya mungkin sekitar Rp270 miliar dengan biaya sedikit atau sama sekali tanpa biaya. Itu berarti dana yang ada bisa dipakai untuk berbagai keperluan umum lainnya,” jelasnya.

West End Public Library (Photo courtesy: dclibrary.org)

West End Public Library (Photo courtesy: dclibrary.org)

​Fasilitas baru itu tidak seperti perpustakaan sebelumnya dan bahkan memiliki kedai kopi di dalamnya. Aturan yang umum tidak berlaku di sini. Makan dan minum diperbolehkan, begitu juga menggunakan ponsel dan bahkan berbicara. Kevin Osborne memberikan alasannya.

“Anda tidak bisa datang dengan stereo, tapi jika Anda amati, Anda bisa melihat orang-orang di sini bercakap-cakap, bekerja sama. Kami tidak lagi melarang orang berbicara. Kami mendorong orang untuk berinteraksi satu sama lain. Kami mendorong orang untuk terlibat. Kami benar-benar lebih menjadi tempat umum daripada tempat membaca yang sunyi,” kata Kevin Osborne.

Selain memiliki koleksi 40.000 buku, dan divisi audio dan multimedia, perpustakaan ini juga menyediakan sekitar 30 komputer untuk digunakan oleh para pengunjung, berikut internet dan wi-fi gratis.

“Misi utama kami masih mengenai melek huruf dan membaca, tetapi melek huruf itu lebih dari sekadar buku. Di sini ada melek komputer dan melek teknologi,” jelasnya.

Koleksi buku bacaan anak-anak di West End Public Library, Washington DC. (Foto: VOA/Videograb)

Koleksi buku bacaan anak-anak di West End Public Library, Washington DC. (Foto: VOA/Videograb)

Setiap orang yang memiliki kartu perpustakaan punya akses ke printer biasa, printer 3D dan bahkan mesin jahit. Pemerintah kota Washington, DC menginginkan perpustakaan seperti ini menjadi pusat komunitas yang melayani kebutuhan warga setempat. Perpustakaan-perpustakaan di sini juga menyediakan berbagai kursus gratis untuk orang dewasa, dan juga menyelenggarakan acara storytelling atau waktu untuk mendongeng yang selalu populer untuk anak-anak.

Lebih dari 4 juta buku, artikel, rekaman audio dan video dipinjam atau diunduh dari Perpustakaan Umum Washington, DC tahun 2017 lalu. Meskipun hampir tidak mungkin melacak berapa banyak orang yang benar-benar mengunjungi perpustakaan, para pejabat kota ini mengatakan bahwa perpustakaan umum kini menjadi tempat yang semakin populer bagi warga. [lt/ab]

Source link